7 Pemeriksaan Penting Menjelang Persalinan, Wajib Diketahui Calon Ibu
7 Pemeriksaan Penting Menjelang Persalinan Wajib Diketahui Calon Ibu.-diarybunda.co.id-
OKES.NEWS - Menjelang waktu melahirkan, setiap calon ibu tentu ingin memastikan kondisi tubuh dan si Kecil dalam keadaan optimal.
Untuk itu, serangkaian pemeriksaan medis perlu dilakukan sebagai langkah persiapan agar proses persalinan berjalan aman dan lancar.
Selama kehamilan, calon ibu biasanya menjalani pemeriksaan rutin seperti pengukuran tekanan darah, berat badan, hingga pemantauan denyut jantung janin.
Di samping itu, terdapat pula pemeriksaan tambahan yang dilakukan sesuai kebutuhan.
Misalnya pemeriksaan cairan ketuban atau tes genetik untuk mengetahui potensi kelainan tertentu pada janin.
BACA JUGA:Sawi Hijau Segar, Inspirasi Olahan Praktis untuk Menu Sehari-hari
Semua pemeriksaan ini berperan penting dalam memantau kesehatan ibu dan bayi hingga hari persalinan tiba.
Bagi ibu yang sudah mendekati waktu melahirkan, berikut ini rangkuman tujuh pemeriksaan penting menjelang persalinan yang perlu diketahui.
1. Pemeriksaan fisik secara berkala
Pemeriksaan fisik merupakan bagian paling umum selama masa kehamilan. Dokter akan memantau tekanan darah, berat badan, serta tinggi fundus uteri untuk memastikan pertumbuhan janin sesuai dengan usia kehamilan.
Detak jantung janin juga diperiksa guna memastikan kondisinya tetap stabil.
Selain itu, pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi gangguan seperti tekanan darah tinggi yang berisiko memicu preeklamsia.
Jika ditemukan tanda-tanda yang tidak normal, dokter dapat segera melakukan penanganan yang diperlukan.
BACA JUGA:Minum Kopi Saat Sahur, Bikin Stamina Tahan Lama atau Malah Cepat Haus? Ini Penjelasan dr Tirta
2. Pemeriksaan laboratorium
Tes darah dan urin menjadi pemeriksaan penting menjelang persalinan. Melalui tes darah, dokter dapat mengetahui apakah calon ibu mengalami anemia, infeksi, atau gangguan kesehatan lainnya.
Sementara itu, tes urin berfungsi untuk mendeteksi kadar protein atau gula yang berlebihan, yang bisa menjadi tanda preeklamsia atau diabetes gestasional.
Pada beberapa kondisi, dokter juga dapat menyarankan tes toleransi glukosa untuk memastikan kadar gula darah tetap terkendali.
Deteksi dini ini sangat membantu dalam mencegah komplikasi saat persalinan.
BACA JUGA:Spaghetti Bolognese Rumahan, Sajian Pasta Lezat yang Mudah Dibuat
3. Pemeriksaan USG
Ultrasonografi atau USG tidak hanya digunakan untuk melihat perkembangan fisik janin, tetapi juga untuk memantau posisi plasenta, jumlah cairan ketuban, serta pertumbuhan bayi secara keseluruhan.
Melalui USG, dokter dapat mengetahui posisi bayi menjelang persalinan. Jika bayi masih berada dalam posisi sungsang, dokter dapat memberikan saran atau tindakan tertentu agar posisi bayi lebih ideal saat proses kelahiran.
4. Pemeriksaan Doppler
Pemeriksaan Doppler bertujuan untuk menilai aliran darah pada tali pusat dan pembuluh darah janin. Tes ini penting untuk memastikan bahwa bayi mendapatkan suplai oksigen dan nutrisi yang cukup selama di dalam kandungan.
Apabila ditemukan gangguan aliran darah, dokter dapat segera mencari penyebabnya dan menentukan langkah medis yang sesuai, terutama pada kehamilan dengan risiko tinggi.
BACA JUGA:Sate Taichan Goreng Pedas Segar, Tanpa Bumbu Kacang Tapi Bikin Nagih
5. Amniosentesis
Amniosentesis dilakukan dengan mengambil sampel cairan ketuban untuk mendeteksi kelainan genetik atau infeksi tertentu pada janin.
Pemeriksaan ini biasanya direkomendasikan bagi Mama dengan risiko tinggi, misalnya memiliki riwayat penyakit genetik dalam keluarga.
Meski termasuk prosedur invasif, hasil amniosentesis memiliki tingkat akurasi yang tinggi dalam mendeteksi gangguan kromosom seperti down syndrome.
6. Chorionic Villus Sampling (CVS)
CVS merupakan pemeriksaan genetik yang dilakukan lebih awal, umumnya pada trimester pertama.
Prosedur ini melibatkan pengambilan sampel jaringan plasenta untuk mengetahui kemungkinan kelainan genetik pada janin.
BACA JUGA:Ceker Mercon Pedas Nampol, Olahan Kaki Ayam Favorit Pecinta Pedas
Pemeriksaan ini bersifat opsional dan hanya dilakukan pada kondisi tertentu. Hasilnya dapat membantu Mama dan dokter dalam merencanakan langkah terbaik ke depannya.
7. Non-Invasive Prenatal Testing (NIPT)
NIPT adalah tes darah yang aman dan tidak invasif untuk mendeteksi risiko kelainan kromosom pada janin. Tes ini dapat dilakukan sejak usia kehamilan 10 minggu.
Selain membantu mendeteksi down syndrome, NIPT juga dapat memberikan informasi mengenai jenis kelamin bayi lebih awal, sehingga menjadi pilihan favorit bagi banyak calon orang tua.
Dengan menjalani berbagai pemeriksaan tersebut, ibu dapat lebih siap secara fisik dan mental dalam menghadapi persalinan.
Persiapan yang matang akan membantu memastikan proses kelahiran berjalan dengan aman, nyaman, dan minim risiko bagi ibu serta si Kecil .
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



