Sebelum makan petugas mengedarkan teko berisi air. Untuk cuci tangan. Air dikucurkan ke baskom. Cuci tangan dari air pancuran teko itu.
Begitulah. Yang memanjang hanya yang di depan. Selebihnya membuat lingkaran-lingkaran kecil. Satu nampan dilingkari empat orang. Makan gratis. Jumat berkah.
Usai magrib saya diundang makan malam gratis lagi. Yakni di satu rumah di kampung Aididdi dalam kota Tarim. Saya dijemput pakai Alphard berdebu. Sepanjang jalan menuju rumah itu pun berdebu.
Tembok rumahnya sendiri terbuat dari tanah. Pun atapnya. Tapi di dalam rumah itu bersih sekali. Kinclong. Modern.
BACA JUGA:Disway Awards 2025: Momentum Apresiasi Integritas dan Kredibilitas Serta Reputasi Brand Nasional
BACA JUGA:Disway Group dan B Erl Cosmetics Resmi Jalin Kerja Sama, Kolaborasi untuk Berbagai Manfaat Luas
Sambil makan kami diskusi soal konstruksi rumah di Tarim. Serba tanah. Atapnya pun tanah. Ternyata itu membuat suhu di dalam rumah lebih dingin.
"Cuaca Yaman terlalu panas. Dengan dinding dan atap tanah bisa terasa lebih dingin. Di musim dingin terasa lebih hangat," kata tuan rumah.
Itulah sebabnya di hari kedua di Tarim saya ingin ziarah industri bata tanah.(Dahlan Iskan)