Singapura Gagal

Rabu 18-03-2026,14:46 WIB
Reporter : Gus Munir
Editor : Aris Munandar

Minggu lalu, 30 tahun kemudian, saya ke Suzhou. Kali ini bermalam. Di Shangri-La Hotel. Dari kamar saya yang di lantai 26 pun puncak gedung tinggi di sebelah hotel tidak tampak. Pun gedung di sebelahnya lagi. Ini hutan gedung penuding langit. Saya bisa melihat mal agak di bawah sana.

Mumpung bermalam di Suzhou saya ingin bernostalgia: seperti apa Singapura II sekarang. Sudah semaju apa.

"Apakah saya bisa diantar ke Singapura II?" pinta saya ke teman di sana.

"Singapura II?"

"Iya. Kawasan industri. Mungkin agak di luar kota," jawab saya.

Ia tidak segera nyambung: Apa itu Singapura II. Ternyata 30 tahun yang lalu ia baru berusialima tahun. Ia begitu sulit mencerna permintaan saya itu.

Ia pun sibuk bertanya ke sana-kemari. Dengan tertawa ia lantas lari ke arah saya.

"Hotel tempat bapak tinggal ini berada di tengah-tengah Singapura II," katanya.

BACA JUGA:Disway Group dan B Erl Cosmetics Resmi Jalin Kerja Sama, Kolaborasi untuk Berbagai Manfaat Luas

BACA JUGA:Disway Awards 2025: Momentum Apresiasi Integritas dan Kredibilitas Serta Reputasi Brand Nasional

Saya pun ikut tertawa lebar. Hahaha-nya panjang.

Tidak menyangka kawasan industri megah itu sudah jadi kota besar yang amat modern. Tidak ada lagi pabrik di sekitar hotel ini. Yang ada gedung-gedung penuding langit. Semua dengan arsitektur modern. Saya seperti terpaku di lantai granit.

"Kalau begitu di mana letak gerbang besar bersinga itu?"

Ia kembali sulit mencerna pertanyaan saya. Ia sibuk memainkan HP. Mungkin bertanya ke AI. Buktinya: tidak lama kemudian ia memberi jawaban sambil melihat layar HP. "Gerbang itu sudah tidak ada lagi. Sudah lama dihilangkan," katanya.

"Apakah Anda pernah tahu gerbang yang khas Singapura itu?"

"Tidak pernah tahu. Tidak pernah mendengar," jawabnya.

Kategori :