Perubahan ini juga mendorong lahirnya kesadaran baru di tengah masyarakat. KWT Melati kini tidak hanya fokus memproduksi kue, tetapi juga aktif mengajak warga untuk lebih bijak menggunakan energi. Dalam berbagai pertemuan desa, mereka sering berbagi pengetahuan mengenai manfaat panel surya serta pentingnya penghematan listrik.
Dari sisi lingkungan, penggunaan PLTS juga memberikan dampak positif. Energi bersih tersebut diperkirakan mampu mengurangi emisi karbon hingga sekitar 8 ton karbon dioksida setiap tahun. Jika sebelumnya aktivitas produksi sering diiringi asap genset, kini energi matahari bekerja tanpa suara dan tanpa polusi.
Transformasi yang terjadi di Desa Sukakarya ini bahkan mendapat pengakuan di tingkat daerah. Desa tersebut berhasil dinobatkan sebagai desa paling inovatif di Kabupaten Musi Rawas.
BACA JUGA:Dorong Transparansi, Pertamina Edukasi Jurnalis Lewat Program KUPAT LIMAS
BACA JUGA:OKU Timur Jadi Lokasi Survei Migas Pertamina EP
Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menilai keberhasilan tersebut tidak lepas dari semangat warga, khususnya para perempuan di KWT Melati.
“PLTS hanyalah alat. Penggerak utamanya adalah semangat dan ketekunan ibu-ibu KWT Melati yang ingin mandiri secara ekonomi sekaligus menjaga lingkungan,” ujarnya.
Apresiasi serupa juga disampaikan Camat STL Ulu Terawas, Muhammad Pahip. Ia menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara teknologi tepat guna dan semangat gotong royong masyarakat desa.
“Ini bukti bahwa dengan kerja sama yang kuat dan inovasi yang tepat, desa mampu menciptakan perubahan besar bagi warganya,” katanya.