Puncak Gunung

Puncak Gunung

Puncak Gunung-Istimewa-

Saya diajak keliling proyek. Naik-naik ke lantai atas. Melihat pula satu apartemen yang sudah jadi –kelihatannya sebagai show marketing.

Satu apartemen tiga kamar. Besar-besar. Sudah tidak ada bedanya dengan apartemen mahal di Shanghai atau Jakarta. Material dinding, lantai, toilet, dapur, semuanya terlihat mewah. Bahkan langit-langitnya sangat tinggi: hampir empat meter.

Ada tujuh ''tower'' di proyek ini. Tiap tower empat lantai. Dari bawah akan kelihatan seperti kumpulan bangunan tinggi di atas gunung.

Satu lantai hanya untuk dua keluarga –masing-masing tiga kamar tidur. Dari tiap kamarnya bisa melihat pemandangan kota Tarim di bawah sana.

Di antara kamar tidur adalah kamar keluarga dan dapur. Masih ada halaman belakang yang bisa untuk barbeque kambing panggang. Juga untuk lesehan di malam hari. Menghadap langit.

BACA JUGA:Disway Awards 2025: Momentum Apresiasi Integritas dan Kredibilitas Serta Reputasi Brand Nasional

BACA JUGA:Disway Group dan B Erl Cosmetics Resmi Jalin Kerja Sama, Kolaborasi untuk Berbagai Manfaat Luas

Baru dua tahun stabil saja sudah ada yang berani memulai proyek seperti itu. Juga banyak yang mulai membangun rumah baru. Mungkin akan banyak orang kaya dari negara-negara Islam yang ingin membeli apartemen semodern itu di Tarim. Apalagi harganya tidak semahal di Indonesia. Hanya sekitar USD 70.000.

Punya apartemen di Tarim mungkin bisa jadi emosi baru bagi keluarga kaya yang memimpikan anaknya nyantri di sana.

Tarim yang konservatif, kini sudah dimasuki proyek modern seperti itu. Kalau saja marketingnya sukses berarti akan banyak proyek serupa yang menyusul. Puncak-puncak gunung Tarim pun kelak akan jadi puncak-puncak apartemen yang jadi hiasan baru kota. (Dahlan Iskan)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: