Beberapa langkah antisipasi dan adaptasi untuk menghadapi El Nino di sektor pertanian termasuk identifikasi dan pemetaan lokasi yang terdampak kekeringan, percepatan penanaman untuk memanfaatkan curah hujan sisa, peningkatan ketersediaan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk percepatan penanaman,
peningkatan ketersediaan air melalui pembangunan atau perbaikan embung, parit, sumur dalam, sumur resapan,rehabilitasi jaringan irigasi tersier, dan penggunaan pompa air.
Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan mental petani dan juga memastikan bahwa mereka tidak merasa sendirian menghadapi musim kemarau.
BACA JUGA:Ini Pesan Kapolda Sumsel Kepada Jajarannya Pejabat Baru untuk Mewujudkan Polri Presisi
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memberikan informasi bahwa El Nino masih terjadi di wilayah Pasifik dan akan berlangsung hingga Januari 2024.
Dampak yang mungkin terjadi meliputi pengurangan curah hujan, kekeringan, dan risiko kebakaran hutan.
Dalam upaya mengatasi situasi ini, Pemerintah berharap Bulog dapat meningkatkan serapan beras dan juga menjalin kemitraan dengan sektor swasta untuk menjaga harga beras tetap stabil tanpa ada penimbunan atau manipulasi harga.
Peran Bulog juga terlihat saat terjadi fluktuasi harga dengan menawarkan harga yang lebih murah di pasar.
Inflasi di Sumatera Selatan relatif stabil, dan program Gabah Swasembada Masyarakat Petani (GSMP) berperan sebagai suplemen
BACA JUGA:Yamaha Thambrin Brother Baturaja Umbar Promo, Cek Selengkapnyauntuk memenuhi kebutuhan komoditas yang dapat mempengaruhi inflasi sehingga masyarakat dapat menghasilkannya sendiri. (Tin)
Artikel ini telah tayang di Sumateraekspres.id dengna judul: Ancaman El Nino, Sumatera Selatan Perkuat Cadangan Beras Nasional