Ya, Mbah Ma'roef tak hanya menunjukkan ketulusan dalam pengabdian kepada Tuhan, tetapi juga dalam kasih sayangnya kepada keluarga.
Setiap tengah malam, membawa bayi bernama Abdul Madjid yang masih merah muda itu ke dekat Ka'bah, Baitullah.
Mbah Ma'roef memanjatkan doa agar anak tersebut tumbuh menjadi orang yang saleh hatinya.
Kisah ini mencerminkan kelembutan dan keikhlasan seorang bapak yang mengarahkan putranya ke jalan yang benar.
Setelah selesai ibadah haji rombongan kembali ke tanah air. Dan kembali menjalani rutinitas di Pondok Kedunglo.
Kisah inspiratif Mbah Ma'roef tak berhenti di situ.
Saat mendekati akhir hayatnya, dalam usia 103 tahun, ia menunjukkan dedikasinya yang tak tergoyahkan.
Meskipun fisiknya lemah dan sakit, beliau tetap memikirkan kepentingan pembangunan pondoknya.
Ia mengutus beberapa muridnya untuk mencari dana, meski dalam kepayahan fisiknya.
Wasiat dan petunjuk beliau pun tak terlupakan.
BACA JUGA:Mbah Ma'roef Profesor Doa dari Kedunglo yang Banyak Dikunjungi Orang dari Berbagai Golongan
Mbah Ma'roef memberi nasihat kepada mereka yang datang belajar ilmu.
Ia menyarankan untuk mengamalkan shalawat dengan sepenuh hati.
Beliau juga memberi petunjuk mengenai akan munculnya sebuah shalawat dari Pondok Kedunglo, tempat dia berasal.
Wasiat ini membawa harapan dan inspirasi kepada banyak orang, mengingatkan bahwa kebaikan akan selalu tumbuh dalam setiap tantangan.