“Perhitungannya dari bibit supaya sama-sama enak. Petani terbantu karena cepat, kami juga dapat tambahan penghasilan,” jelasnya.
BACA JUGA:Panen Raya Jagung di OKU Timur, 5 Pejabat Tinggi Negara Hadir
BACA JUGA:Dukung Ketahanan Pangan, Cek Tanaman Jagung di Desa Binaan
Manfaat penggunaan alat tanam ini juga dirasakan langsung oleh petani lain. Udin, salah satu petani jagung setempat, mengaku hampir selalu menggunakan jasa tersebut setiap musim tanam karena dinilai lebih hemat tenaga dan waktu.
“Kalau tanam manual pakai gejik itu capek dan lama. Sekarang tinggal siap bibit, sebentar sudah selesai. Badan tidak terlalu terkuras, tapi tanamannya malah lebih bagus,” ujarnya.
Menurut Udin, kerapian tanaman menjadi nilai tambah tersendiri. Barisan jagung yang teratur membuat proses perawatan hingga panen menjadi lebih mudah.
“Kalau tanamannya rapi, perawatannya ringan. Bersihinnya cepat, pupuk juga gampang. Jadi tenaga bisa difokuskan ke perawatan,” tambahnya.
BACA JUGA:Dampingi Petani Jagung, Dukung Ketahanan Pangan di OKU Selatan
BACA JUGA:Panen Raya Jagung Jaga Ketahanan Pangan di Tanah Ogan Komering Ulu
Apa yang dilakukan Taufik menunjukkan bahwa inovasi sederhana dari petani dapat menjadi solusi nyata di lapangan.
Di tengah mahalnya biaya tenaga kerja dan sempitnya waktu tanam, alat tanam jagung manual ini terbukti meningkatkan efisiensi sekaligus membuka peluang usaha baru di sektor pertanian.
Penerapan teknologi tepat guna tersebut juga menjadi bukti bahwa pertanian dapat dikelola secara lebih produktif dan menarik bagi generasi muda, tanpa harus bergantung pada mesin besar atau peralatan berbiaya tinggi.