Menjaga pantangan, dengan menghindari semua makanan dan minuman selain yang diperbolehkan
Air putih biasanya menjadi satu-satunya minuman yang dikonsumsi selama puasa mutih.
Keamanan dan Pertimbangan Kesehatan
Seperti praktik puasa lainnya, puasa mutih juga memiliki potensi risiko bagi kesehatan. Mengandalkan nasi putih saja sebagai asupan harian tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh secara lengkap. Kekurangan zat gizi dapat memicu berbagai keluhan, seperti kelelahan, sakit kepala, berkurangnya massa otot, hingga gangguan metabolisme.
BACA JUGA:Manfaat Puasa dalam Menekan Risiko Penyakit Degeneratif
BACA JUGA:Benarkah Puasa Membantu Menurunkan Tekanan Darah? Ini Faktanya
Puasa mutih sebaiknya tidak dilakukan oleh orang dengan kondisi medis tertentu, seperti diabetes, gangguan ginjal, atau riwayat gangguan makan, tanpa pengawasan tenaga medis. Ibu hamil dan menyusui juga tidak dianjurkan menjalani puasa ini karena kebutuhan nutrisinya lebih tinggi.
Puasa Mutih dari Sudut Pandang Ilmiah
Hingga kini, puasa mutih masih minim kajian ilmiah. Namun, penelitian tentang jenis puasa lain—seperti puasa intermiten dan puasa Ramadan—memberikan gambaran mengenai efek puasa terhadap kesehatan. Puasa intermiten diketahui dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu penurunan berat badan.
Sementara itu, studi mengenai puasa Ramadan menunjukkan adanya perbaikan profil lipid dan fungsi hati pada hewan percobaan. Meski demikian, puasa mutih memiliki karakteristik yang berbeda karena sangat membatasi variasi makanan, sehingga manfaat dan risikonya tidak bisa disamakan begitu saja.
Tips Aman Menjalani Puasa Mutih
Jika kamu berencana mencoba puasa mutih, beberapa tips berikut dapat membantu mengurangi risiko kesehatan:
BACA JUGA:Manfaat Tersembunyi Puasa: Cara Tubuh Melakukan Detoks dari Dalam
BACA JUGA:Jenis Kurma yang Bisa Dibeli untuk Buka Puasa
Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, terutama jika memiliki kondisi medis
Dengarkan sinyal tubuh dan hentikan puasa jika muncul keluhan serius