Sebenar KDRT

Selasa 17-02-2026,14:06 WIB
Reporter : Gus Munir
Editor : Aris Munandar

BACA JUGA:Disway Group dan B Erl Cosmetics Resmi Jalin Kerja Sama, Kolaborasi untuk Berbagai Manfaat Luas

Katanyi: "Saya akan ikut yang 1.500 km asal kamu tidak ikut yang 600 km itu," ujar Ivo. Maksudnyi: istri akan mewakili penderitaan suami.

Deal. Sang suami batal ikut 600 km. Ivo yang ikut 1.500 km. Berarti tiap hari harus latihan ratusan kilometer.

Perjalanan KDRT itu dimulai Senin, 2 Februari 2026, lalu. Ivo merasa sangat tersiksa sepanjang perjalanan. Selama enam hari. Meski event itu diikuti 50 peserta, praktiknya mirip sendirian. Tiap orang mikir diri sendiri-sendiri.

"Ini benar-benar KDRT," kata Ivo.

Beberapa suami-istri punya perilaku mirip itu. Mereka punya ''persatuan korban KDRT'' sejenis.

Pernah Ivo diajak sepedaan 600 km. Tiap hari mereka berangkat pukul 05.00 pagi. Sepanjang hari mereka di atas jalan raya. Pun sepanjang sore.

BACA JUGA:Disway Group dan B Erl Cosmetics Resmi Jalin Kerja Sama, Kolaborasi untuk Berbagai Manfaat Luas

BACA JUGA:Disway Awards 2025: Momentum Apresiasi Integritas dan Kredibilitas Serta Reputasi Brand Nasional

Malam? Tergantung keadaan. Kadang jaraknya nanggung untuk istirahat. Sering baru berhenti pukul 22.00 atau 23.00.

Ivo pernah bercerita soal perjalanan sepeda berduanya dari Surabaya ke Pacitan. Lewat Madiun dan Ponorogo. Selepas Slahung, sudah gelap malam. Jalannya menanjak. Berkelok. Sepi. Kiri jalan tebing gunung. Kanan jalan sungai Grindulu. Hujan. Hanya berdua. Tepatnya tidak berdua. Suami sudah jauh di depan. Ivo sendirian di belakang. Perempuan. Muda. Sepedaan sendirian di kegelapan sunyi seperti itu.

Tidak hanya sekali. Jalur Ponorogo-Pacitan sering dilewati untuk tujuan arah yang berbeda-beda. Pernah, katanyi, menjelang tengah malam masih di situ. Sudah tidak kuat lagi. Akhirnya bermalam di atas bukit. Ada satu rumah kosong di situ. Jauh dari rumah lainnya. Habis subuh berangkat lagi.

Pernah juga Ivo diajak bermalam di masjid. Tepatnya di serambi masjid. Masjid desa. Di Bojonegoro Hanya ada mereka berdua. Tidak bisa mandi --tidak ada kamar mandi di masjid itu. Juga tidak minta izin siapa-siapa karena tidak ada manusia di sana.

Saya setuju itu sebenar-benar KDRT.

Saya pernah marah kepada cucu Pak Iskan itu. Marah sekali. Marah besar. Marah dalam hati. Kok sepedaan terus. Kapan kerjanya? Bukankah sudah diberi contoh orang itu harus kerja keras?

BACA JUGA:Disway Awards 2025: Momentum Apresiasi Integritas dan Kredibilitas Serta Reputasi Brand Nasional

Kategori :