Waktu habis. Harus ke bandara. Tentu mampir lagi ke resto kambing bakar. Tidak hanya daging kambing yang disajikan. Juga daging onta. Bahkan ada onta yang masih diikat di depan resto. Siap disembelih.
Di situ saya baru tahu bagaimana cara mengikat onta. Bukan diikat di lehernya. Onta itu diikat di salah satu kaki belakangnya.
Penyembelihan onta itu ternyata dilakukan ketika saya sedang makan. Tidak sempat melihatnya. Tahu-tahu ada kepala onta yang dibawa masuk ke resto. Ditaruh di dekat dapur.
BACA JUGA:Disway Group dan B Erl Cosmetics Resmi Jalin Kerja Sama, Kolaborasi untuk Berbagai Manfaat Luas
BACA JUGA:Disway Awards 2025: Momentum Apresiasi Integritas dan Kredibilitas Serta Reputasi Brand Nasional
Saya terbelalak melihat kepala onta terpenggal itu. Saya foto. Tentu saya tidak bisa menunggu masakan kepala onta itu. Saya harus bergegas ke bandara.
Sampai di bandara, ternyata bandara masih tutup. Petugas pos keamanan memberi tahu: pesawat hari itu delay sampai jam 6 sore.
Balik ke Tarim. Masih bisa satu kambing bakar lagi --tapi masakan kepala ontanya sudah termakan orang lain semua. (Dahlan Iskan)