Joao tidak pernah mendapat persetujuan apa pun. Ia malu sudah enam bulan bergaji besar tapi tidak bekerja apa-apa. Padahal target pemerintah di bidang swasembada pangan begitu besar gemanya. PT Agrinas Pangan belum berbuat apa-apa. Ia pilih mundur.
Joao kenal Presiden Prabowo. Kenal dekat. Masih tetap berhubungan pun setelah Prabowo menjadi presiden. Joao adalah tokoh di Timor Timur --sekarang Timor Leste. Prabowo-muda pernah diterjunkan ke medan perang di sana.
Beberapa waktu setelah mundur itu saya menghubungi Joao lagi. Tidak tersambung. Lagi. Juga tidak terhubung.
Saya hanya ingin bertanya: siapa dirut PT Agrinas Pangan Nusantara yang menggantikannya. Ternyata sekaranglah jawabnya: Joao masih menjabat dirut di situ.
Rupanya Presiden Prabowo tahu ketika tiba-tiba Joao jadi berita besar: mundur dari jabatan dirut. Langka ada dirut mengundurkan diri. Apalagi motifnya karena malu tidak bisa melakukan apa-apa.
BACA JUGA:Disway Group dan B Erl Cosmetics Resmi Jalin Kerja Sama, Kolaborasi untuk Berbagai Manfaat Luas
BACA JUGA:Disway Awards 2025: Momentum Apresiasi Integritas dan Kredibilitas Serta Reputasi Brand Nasional
Berarti Joao dilarang mundur.
Ternyata, kini, begitu bisa bekerja Joao bekerja luar biasa. Luar biasa besarnya. Juga luar biasa cepatnya.
Besar: impor mobil sebanyak 105.000.
Cepat: sudah membayar uang muka 30 persen.
Bahkan ternyata lebih cepat dari itu: mobil pikap India tersebut sudah akan tiba. Minggu depan.
Maka saya tidak bisa melanjutkan tulisan ini: petir beberapa kali itu membuat kepala saya sulit menyusun kalimat yang tidak menyakitkan siapa pun. Terlalu banyak pertanyaan di kepala. Semua tidak tersedia jawabnya.
Bagaimana proses terjadinya keputusan itu? Pakai tender atau e-katalog seperti chromebook?
Dari mana dapat uang muka 30 persen untuk mobil berjumlah 105.000?
Kalau dari APBN mengapa Menkeu Purbaya tidak mencak-mencak?