OKU Masih Dibayangi Hujan Intensitas Tinggi

OKU Masih Dibayangi Hujan Intensitas Tinggi

BATURAJA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menyampaikan hasil analisa cuaca terkini berdasarkan data dan koordinasi -ist-

BATURAJA, OKES.NEWS  — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menyampaikan hasil analisa cuaca terkini berdasarkan data dan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Sumatera Selatan,

terkait intensitas curah hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di wilayah Sumatera Selatan, khususnya Kabupaten OKU.

BPBD OKU menjelaskan bahwa kondisi hujan yang melanda wilayah Sumatera secara umum, termasuk Sumatera Selatan dan Kabupaten OKU, dipengaruhi oleh sejumlah dinamika atmosfer yang cukup aktif.

Berdasarkan pemantauan sejak tanggal 17 hingga 19 Januari, wilayah Sumatera Selatan berada dalam pengaruh Gelombang Equator Rossby.

Selain itu, pada tanggal 19 Januari juga terpantau masuknya Gelombang Kelvin yang diperkirakan masih akan memengaruhi kondisi cuaca hingga tanggal 21 Januari 2026.

BACA JUGA:Masa Tunggu Keberangakatan CJH OKU Capai 26 Tahun

BACA JUGA:PLN Terus Percepat Pemulihan Kelistrikan Aceh, 6.432 Desa Telah Kembali Menyala

Kedua fenomena atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan yang berdampak pada peningkatan curah hujan di wilayah Sumatera Selatan, termasuk OKU.

Tak hanya itu, BPBD OKU juga menyampaikan hasil monitoring terhadap keberadaan bibit siklon 97S serta siklon tropis NOKAEN, yang turut memberikan pengaruh terhadap pola cuaca regional.

Dominasi angin baratan yang masih berlangsung di wilayah Sumatera menjadi indikator bahwa musim hujan masih aktif dan berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

“Potensi hujan untuk dua hari ke depan di wilayah OKU diprakirakan terjadi pada sore hingga malam hari,” ungkap Manager Pusdalops BPBD OKU, Gunalfi, Senin (19/1/2026).

BPBD OKU mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi dampak yang dapat ditimbulkan akibat peningkatan curah hujan, seperti genangan air, banjir, serta tanah longsor di wilayah rawan.

Pemantauan kondisi cuaca dan koordinasi dengan BMKG terus dilakukan sebagai langkah antisipatif guna meminimalisasi risiko bencana hidrometeorologi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: