PSEL Jadi Peganjal Palembang Raih Piala Adipura 2026
PSEL Jadi Peganjal Palembang Raih Piala Adipura 2026-Istimewa-
PALEMBANG, -OKES.NEWS-Kali terakhir meraih Piala Adipura di tahun 2023 silam membuat jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang termotivasi kembali merebut supremasi tertinggi untuk kota terbersih di Indonesia tersebut tahun ini.
Namun, untuk merealisasikan hal tersebut jelas bukan sebuah perkara yang mudah, dari catatan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palembang, Kota Pempek bukan tidak mendapatkan piala Adipura sama sekali dalam beberapa tahun terakhir, tetapi karena pada saat Covid penilaian Adipura dihentikan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palembang, Dr H Akhmad Mustain SSTP MSi mengatakan, Adipura tahun ini memang belum diumumkan, tapi memang pihak Kementerian Lingkungan Hidup telah melakukan pengetatan terhadap penilaian Adipura.
"Kota-kota yang masih control landfill atau artian tidak melakukan sanitary landfill di tempat pembuangan akhirnya, maka akan sangat kecil mendapatkan Adipura, dan Kota Palembang masih dalam kondisi ini," ungkap Mustain, kemarin (25/2).
BACA JUGA:15 Warga Sumsel yang Terlantar di Kamboja,
BACA JUGA:Program MBG di OKU Selatan Disorot, Menu Dinilai Jauh dari Standar Gizi
Namun, kata Mustain ini bukan kondisi yang dibiarkan begitu saja, tanpa upaya dari Pemkot Palembang. Sebab jika nanti Palembang sudah mengoperasikan Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) maka dapat dipastikan Kota Palembang bisa mendapatkan piala Adipura kembali.
"Karena kunci dari penilaian Adipura yaitu proses pengolahan sampah di tempat pemprosesan akhir," ujarnya.
Sementara di TPA Sukawinatan juga dari semula off pendamping menjadi menuju control landfill karena Pemkot Palembang sejak 2025 setelah mendapatkan teguran untuk penanganan TPA wali kota kemudian disetujui DPRD segera melakukan pergeseran anggaran sebesar Rp7 miliar untuk penataan TPA.
Dari Rp7 miliar inipun dari off pendamping menjadi control landfill, sementara pemerintah pusat sangat menginginkan TPA itu harus sanitary landfill.
BACA JUGA:Resah! Pencurian Kopi hingga Sawit Marak di Muaradua
BACA JUGA:Luncurkan Dapur MBG Kemala Bhayangkari, Layani 2.478 Warga
Sementara kebutuhan untuk sanitary landfill itu setiap satu ton sampah membutuhkan biaya Rp165 ribu.
"Kenapa Surabaya bisa menerapkan sanitary landfill karena satu ton sampah menggunakan APBD Rp220 ribu, jadi pengolahan sampah hanya untuk di TPA saja sampai Rp150 miliar," tukasnya
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: