BACA JUGA:Disway Group dan B Erl Cosmetics Resmi Jalin Kerja Sama, Kolaborasi untuk Berbagai Manfaat Luas
Sebagai dosen filsafat, Prof Johansyah melihat filosofi di balik bedah plastik. "Ahli bedah plastik itu psikiater dengan pisau berdarah," katanya.
Betapa besar jasa ahli bedah plastik dalam memperbaiki jiwa manusia. Misalkan anak Anda lahir dalam keadaan bibir sumbing. Kejiwaan anak hancur. Pun orang tua. Sekeluarga.
Dengan pisaunya ahli bedah plastik memperbaiki kejiwaan seluruh keluarga sumbing itu menjadi jiwa yang bahagia.
Pun bagi yang berhidung pesek: bisa melakukan bedah plastik estetika. Bisa mancung. Bahkan, kini, sampai rahang pun dilancipkan untuk mengejar cantik.
Lebih dari itu: laki-laki yang berjiwa perempuan bisa pilih mau jadi yang mana. Bisa dibuatkan vagina di lokasi burungnya. Sebagian Anda tentu masih ingat: Dorce Gamalama. Almarhumah. Prof Johansyah yang melakukannya.
BACA JUGA:Disway Group dan B Erl Cosmetics Resmi Jalin Kerja Sama, Kolaborasi untuk Berbagai Manfaat Luas
BACA JUGA:Disway Awards 2025: Momentum Apresiasi Integritas dan Kredibilitas Serta Reputasi Brand Nasional
Filosofi lainnya: hanya dokter ahli bedah plastik yang bisa membuat orang bahagia. "Tujuan hidup kan untuk bahagia. Ahli bedah plastik yang bisa membantu mencapai tujuan itu".
"Sudah berapa banyak melakukan operasi bibir sumbing?
"Banyak sekali. Ribuan".
"Dua ribu?"
"Lebih".
"Lima ribu?"
"Mungkin masih lebih".
"Masih tetap free thinker?"