OKES. NEWS- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKU Selatan) kembali menjadi perhatian publik.
Memasuki bulan suci Ramadan, pelaksanaan program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi masyarakat tersebut dinilai belum memenuhi standar makanan bergizi sebagaimana yang diharapkan.
Sejumlah penerima manfaat mengeluhkan menu yang dibagikan terkesan terlalu sederhana, minim lauk, dan belum mencerminkan prinsip gizi seimbang.
Bahkan, beberapa warga menilai porsi makanan yang diterima tidak memadai, baik dari sisi jumlah maupun kualitasnya.
Seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa dengan menu MBG yang diterima anaknya.
BACA JUGA:Luncurkan Dapur MBG Kemala Bhayangkari, Layani 2.478 Warga
BACA JUGA:DLH OKU Selatan Ingatkan Dapur MBG Kelola Limbah dengan Benar
Ia menilai makanan tersebut belum mencerminkan program pemenuhan nutrisi seperti yang selama ini disampaikan pemerintah.
“Jika ini disebut makanan bergizi, kami jadi mempertanyakan standarnya. Isinya sangat sederhana, lauknya minim, dan belum memenuhi unsur gizi lengkap. Padahal program ini bertujuan mendukung tumbuh kembang anak serta meningkatkan kesehatan,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lain. Mereka menyebut di beberapa titik pembagian, menu MBG hanya berupa nasi dengan lauk seadanya, bahkan terkadang hanya dilengkapi sayur tanpa tambahan protein hewani maupun nabati yang mencukupi.
Selain menu, mekanisme distribusi turut menjadi sorotan. Warga menilai pembagian makanan kurang memperhatikan aspek kelayakan dan kebersihan. BACA JUGA:Bupati OKU Minta Penyajian MBG layak konsumsi
BACA JUGA:Resah! Pencurian Kopi hingga Sawit Marak di Muaradua
Ada penerima yang diminta membawa wadah sendiri, bahkan menerima makanan dalam kondisi terbuka sehingga menimbulkan kekhawatiran soal higienitas.
“Proses pembagiannya terkesan kurang rapi dan tidak memperhatikan kebersihan. Seharusnya makanan dikemas dengan baik agar tetap higienis dan aman dikonsumsi,” ungkap salah seorang warga.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat mengenai kualitas pelaksanaan MBG di OKU Selatan.