Chencho Gyeltshen, Bintang Sepak Bola Bhutan yang Jadi Ikan Baru Sriwijaya FC

Chencho Gyeltshen, Bintang Sepak Bola Bhutan yang Jadi Ikan Baru Sriwijaya FC

Sriwijaya FC baru-baru ini membuat keputusan yang dapat dianggap brilian dengan mendatangkan pemain berkualitas, mantan striker Timnas Bhutan, Chencho Gyeltshen.--

Dengan segala pencapaiannya, Gyeltshen telah menjadi inspirasi bagi banyak pemain muda di Bhutan dan membuktikan bahwa dengan dedikasi dan kerja keras, mimpi bisa menjadi kenyataan.

BACA JUGA:Pemain Asing Sriwijaya FC, Chenco Gyelthsen Tak Sabar Lawan Sada Sumut

Dimanakah Bhutan Itu? 

Negara kecil yang terletak di Asia Selatan, Bhutan, dikenal sebagai Negeri Naga Guntur mengalami transformasi politik yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. 

Dengan sejarah yang kaya akan budaya dan tradisi, negara ini telah menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

Sebagai negara yang berada di antara dua kekuatan besar, India dan Tiongkok, Bhutan tetap teguh dengan identitasnya. 

Nama lokalnya, Druk Yul, atau "Negara Naga", mencerminkan kebanggaan dan sejarah yang mendalam. 

Bendera dan lambang negara yang menampilkan simbol naga menjadi bukti betapa pentingnya makhluk mitologi ini bagi rakyat Bhutan.

Namun, di balik simbolisme dan tradisi, Bhutan juga melalui periode perubahan politik. 

Selama bertahun-tahun, negara ini dijalankan dengan kekuasaan monarki absolut.

Namun, semua itu berubah ketika Raja Jigme Singye Wangchuck, yang memimpin sejak tahun 1972, mengumumkan niatnya untuk melaksanakan pemilihan perdana menteri dan mengadopsi konstitusi baru.

Pengumuman bersejarah ini disampaikan pada 18 Desember 2005, di hadapan sekitar 8.000 warga Bhutan, termasuk penggembala hewan yak, biksu, petani, dan siswa dari daerah pedesaan. 

Harian Kuensel, media nasional Bhutan, menjadi saluran untuk menyebarkan berita penting ini ke seluruh penjuru negara.

Meski raja telah memperkenalkan rancangan konstitusi dan berencana pensiun pada usia 65 tahun, keputusannya untuk menggelar pemilu di tahun 2008 dan kemudian turun tahta mendahului rencana tersebut.

Keputusan ini, meskipun awalnya menimbulkan kekhawatiran di kalangan sebagian rakyat Bhutan mengenai potensi terjadinya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, akhirnya diterima dengan baik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: