Benarkah Puasa Bisa Detoks Tubuh? Ini Fakta Medisnya
Ilustrasi Puasa Bisa Detoks Tubuh -istock-
OKES.NEWS- Puasa yang dilakukan dengan cara sehat diketahui memberikan berbagai manfaat bagi tubuh, salah satunya membantu menurunkan berat badan. Namun, klaim bahwa puasa mampu membersihkan racun dari dalam tubuh masih sering menimbulkan perdebatan.
Pada dasarnya, puasa memang memiliki manfaat kesehatan, tetapi belum ada bukti ilmiah kuat yang menyatakan bahwa puasa secara langsung berfungsi untuk membuang racun dari tubuh. Hal ini karena tubuh manusia telah memiliki sistem alami yang mampu mengeluarkan zat berbahaya, baik seseorang sedang berpuasa maupun tidak.
Apakah Puasa Membantu Proses Detoksifikasi?
Puasa menjadi perhatian di dunia medis karena sejumlah manfaat yang telah dibuktikan melalui penelitian. Beberapa studi menunjukkan bahwa puasa dapat membantu menurunkan berat badan serta memperbaiki parameter kesehatan, seperti kadar gula darah, kolesterol, trigliserida, insulin, dan tingkat peradangan dalam tubuh.
Selain itu, pembatasan kalori dan puasa juga diketahui berdampak positif pada proses penuaan sel dan mekanisme perbaikan sel. Puasa turut berperan dalam meningkatkan kerja enzim tertentu yang terlibat dalam proses detoksifikasi, serta mendukung kesehatan hati sebagai organ utama yang bertugas menetralisir zat beracun.
BACA JUGA:Rahasia Tubuh Tetap Bugar Saat Puasa, Jangan Abaikan Asupan Air
BACA JUGA:Mengapa Durasi Puasa Berbeda di Setiap Negara? Ini Penjelasannya
Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa proses detoksifikasi tubuh tidak hanya bergantung pada puasa. Organ seperti hati dan ginjal bekerja secara aktif setiap hari untuk menyaring dan membuang limbah metabolisme serta racun dari dalam tubuh.
Bagi orang yang sehat, upaya terbaik untuk mendukung proses detoks alami tubuh adalah dengan menerapkan pola makan bergizi seimbang, mencukupi kebutuhan cairan, beristirahat dengan cukup, serta menghindari kebiasaan merokok, penggunaan narkoba, dan konsumsi alkohol berlebihan.
Tren detoks melalui diet ekstrem, suplemen tertentu, atau metode puasa yang ketat memang semakin populer. Namun, hingga kini belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa praktik tersebut benar-benar diperlukan oleh sebagian besar orang.
Perlu juga diingat bahwa meskipun metode puasa seperti intermittent fasting relatif aman bagi banyak orang, bentuk puasa yang ekstrem dan dilakukan dalam jangka waktu panjang—seperti puasa air selama beberapa hari—berpotensi menimbulkan risiko kesehatan jika tidak dilakukan dengan pengawasan medis.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: