Hotspot di Muara Enim Didominasi Panas Tambang Batu Bara
Jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muara Enim berjibaku memadamkan dua kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terdeteksi di wilayah Gelumbang dan Muara Belida. -ist-
Hotspot di Muara Enim Didominasi Panas Tambang Batu Bara
SUMSEL, OKES.NEWS – Jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muara Enim berjibaku memadamkan dua kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terdeteksi di wilayah Gelumbang dan Muara Belida.
Berkat kerja keras di lapangan, dua titik api (firespot) itu berhasil dipadamkan. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Muara Enim Abdurrozieq Putra, mengatakan, karhutla pertama pada Sabtu-Minggu, 4-5 Juli 2026 di Desa Gumai, Kecamatan Gelumbang.
Api berhasil dipadamkan melalui operasi gabungan pemadaman darat dan udara dengan melibatkan Manggala Agni, BPBD, dan instansi terkait. "Alhamdulillah api berhasil dipadamkan. Luas lahan yang terbakar di Desa Gumai sekitar dua hektare," katanya, kemarin.
Karhutla kedua pada 6 Juli, di Desa Harapan Mulia, Kecamatan Muara Belida. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD bersama masyarakat bergerak cepat melakukan pemadaman hingga api berhasil dipadamkan sekitar pukul 21.30 WIB.
BACA JUGA:Ditpolairud Polda Sumsel Ungkap Penyelundupan BBM Ilegal Bernilai Strategis
"Untuk firespot di Desa Harapan Mulia, luas lahan yang terbakar sekitar seperempat hektare dan api berhasil dipadamkan malam itu juga," jelasnya. Abdurrozieq menjelaskan, titik panas (hotspot) di wilayah Muara Enim masih didominasi oleh panas yang berasal dari area tambang batu bara.
"Untuk Kabupaten Muara Enim, hotspot memang cukup banyak, tapi kalau firespot atau titik api yang benar-benar terjadi baru ada dua," beber dia. Abdurrozieq menambahkan, berdasarkan pemantauan terbaru terdapat sekitar 10 hotspot di Kabupaten Muara Enim. Namun, sebagian besar titik panas tersebut berada di Desa Darmo dan merupakan panas yang berasal dari tumpukan batu bara di kawasan tambang.
"Jadi penyumbang hotspot terbanyak itu berasal dari aktivitas tambang, bukan karena karhutla," tegasnya. Abdurrozieq menambahkan, penyebab dua kejadian karhutla hingga kini masih dalam penyelidikan sehingga belum dapat dipastikan pemicunya.
Sebagai langkah pencegahan, BPBD Muara Enim terus meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat. Tim Reaksi Cepat yang ditempatkan di Posko Lapangan Gelumbang secara rutin melaksanakan patroli sekaligus mengedukasi warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
"Kami terus mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat puncak musim kemarau diperkirakan masih akan terjadi pada Agustus hingga September," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: